Juara Festival Rebo-Kemis Nyunda 2020

Juara Festival Rebo-Kemis Nyunda 2020
Editor: Malda Wisata —Selasa, 25 Februari 2020 19:26 WIB

terasjabar.id - Salah satu badan PBB, UNESCO, pada 17 November 1999 telah menetapkan bahwa setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional Bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang dikenalkan kepada seorang anak dan mayoritas masyarakat di Indonesia menggunakan bahasa ibu itu sebagai bahasa daerah.

Bagi Urang Sunda tentu Bahasa Ibunya adalah Basa Sunda yang menurut leluhur kita bahwa, “Basa teh ciciren Bangsa. Disebat aya Urang Sunda teh lantaran aya Basana”.

Untuk ke-2 kalinya KAMP Garut Enterprise sesuai dengan namanya sebagai Kelompok Anggota Masyarakat Peduli Garut kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap Seni dan Budaya Sunda khususnya menyangkut Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Seni, Tradisi Lisan, dan Pengetahuan Tradisional dengan menyelenggarakan “Festival Rebo-Kemis Nyunda” yang memperlombakan, Pasanggiri Raksukan Sunda Sadidinten,Pasanggiri NgaDongeng, Pasanggiri Maca Pupuh, Lomba Foto Model Raksukan Sunda Sadidinten dan Lomba Fotografi Model memperebutkan Piala Bergilir Gubenur Jawa Barat dan Piala Bergilir Disparbud Prov. Jawa Barat.

Kegiatan “Festival R-K Nyunda” ini telah dilaksanakan pada 22 Februari 2020 di Bale Paminton “Inten Dewata” Garut sebagai salah satu upaya untuk tetap melestarikan bahasa (daerah) sendiri, dalam hal ini Basa Sunda dengan membentuk mindset yang merasa bangga terhadap bahasanya sendiri. Sehingga diharapkan Peserta (Pamilon) akan merasa bangga dan mampu mengembangkan diri dengan kemampuan bahasa ibunya sendiri.

Peserta/pamilon mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak/RA, Sekolah Dasar/MI, Sekolah Menengah Pertama/MTs, Sekolah Menengah Atas/SMK/MA, Perguruan Tinggi, Instansi Pemerintah/Swasta maupun dari kalangan Umum/Masyarakat. Peserta ini datang dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kab. Sukabumi dan Kabupaten Garut sendiri, demikian disampaikan Irno Sukarno sebagai Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus Ketua KAMP Garut.

Kegiatan yang merupakan aktifitas/kepedulian dari komunitas dibuka secara resmi oleh Sekretaris Disparbud Kab. Garut, Ma’mun, S.Pd.,M.Pd. mewakili Kepala Disparbud Garut yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Ma’mun, S.Pd.,M.Pd. yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Kepariwisataan memuji konsistensi KAMP Garut dibawah komando Sdr.Irno yang peduli tidak saja terhadap Seni dan Budaya Sunda, tetapi juga dalam hal Kepariwisataan, seperti “Festival Permainan Tradisional dan Pertandingan Olahraga Tradisional” yang pernah dilaksanakan sebelumnya.

Pada acara pembukaan tampak hadir pula Anggota Dewan Pendidikan Kab.Garut, Susilawati, S.Pd.,M.Pd. dan Para Undangan lainnya.

Sebagai pembukaan kegiatan kompetisi ini ditandai dengan penyerahan Piala Bergilir Gubenur Jawa Barat untuk Pasanggiri Raksukan Sunda Sadidinten dari Pemenang tahun 2019 yaitu Yoshvyolla Azharyah Meysun Anandiva (Cinta) kepada Sekretaris Disparbud Kab.Garut mewakili pihak Pemerintah dan selanjutnya diserahkan kepada Ketua Panitia untuk diperebutkan kembali.

Kompetisi diawali oleh “Pasanggiri Raksukan Sunda Sadidinten” untuk kategori Taman Kanak-Kanan/RA, dilajutkan kategori Sekolah Dasar kls 1-3, kemudian kategori Sekolah Dasar kls 4-6.

Berbeda dengan ajang modelling umumnya, pada “Pasanggiri Raksukan Sunda Sadidinten” ini Peserta selain menampilkan kemampuannya berjalan diatas catwalk juga dituntut untuk memperkenalkan diri dalam Basaha Sunda, mengulas tentang Bahasa Ibu serta pentingnya ngamumule Budaya Sunda, juga menunjukkan kemampuan dan penguasaannya dalam bisa Seni dalam Budaya Sunda. Sehingga ada peserta yang menari Jaipongan, menunjukan kemampuannya menabuh/membunyikan alat musik tradisional Sunda, dsb.

Selepas break waktu Dhuhur dilanjutkan dengan Pasanggiri Ngadongeng dimana Peserta dituntut untuk menyampaikan Dongeng / cerita berupa kisah mengenai suatu kejadian yang berkembang di suatu daerah –baik kejadian nyata/sesungguhnya terjadi, maupun berupa Dongeng turun-temurun (Asal-mula Nama Tempat, Suatu Kejadian, dsb), bukan cerita Fiksi.

Kemudian dilajutkan dengan “Pasanggiri Maca Pupuh”, dimana Pupuh yang biasa ditembahkan, dalam Festival kali ini dibacakan layaknya deklamasi. Menurut Irno Sukarno sebagai Ketua Pelaksana kegiatan ini maksud dari Pasanggiri “Maca Pupuh” ini sebagai upaya antisipatif telah berkurangnya penyampaian pelajaran mengenai Pupuh kepada para Siswa/i, bisa jadi karena penguasaan Guru yang kurang, atau karena “takut” fals ketika memberi contoh dengan menembangkannya didepan para Siswa/i, dengan demikian materi/kandungan nilai edukasi yang berada dalam Pupuh tidak tersampaikan kepada para Siswa sedangkan kandungan nilai edukasi yang ada dalam Pupuh tersebut sangat perlu disampaikan kepada para generasi muda dlam rangka pewarisan nilai-nilai dari tradisi lisan dalam Budaya Sunda.

Sebelum hasil kompetisi dari keseluruhan Pasanggiri ini disampaikan, kegiatan ditutup secara resmi oleh Kepala Disparbud Garut, H.Budi Gan-gan Gumilar, SH.,MSi., dengan pesan dan harapan kiranya Bahasa Sunda sebagai Basa Indung Urang Sunda terus dipergunakan tanpa malu-malu baik dalam pergaulan sehari-hari maupun acara-acara resmi sehingga Sunda menjadi identitas bagi Daerah Sunda dimanapun berada.

Adapun hasil dari “Festival Rebo-Kemis Nyunda” tahun 2020 selengkapnya adalah sebagai berikut :

(Jajang Sukmana)***

Juara Festival Rebo-Kemis Nyunda 2020


Loading...